Inovasi Desa melalui SIDT di Tengah Pandemi COVID-19


Tapanuli Media

Covid-19 telah mengguncang sejumlah sendi kehidupan manusia. Tak hanya aspek kesehatan, ia juga mengobrak-abrik sendi perekonomian. Sejumlah perusahaan menutup usahanya. Korban pemutusan hubungan kerja berjatuhan,penganguran dimana-mana, namun tentu hal ini tidak serta merta harus membuat kita menyerah,namun di butuhkan metode baru.

"Melihat kondisi ini, tentu miris juga,bilamana kita melihat angka peningkatan pasien covid-19 yang terpapar di sejumlah ndaerah meningkata tajam. Apalagi Badan Pangan Dunia (Food Agriculture Organization) telah memberikan peringatan bahwa dampak dari virus corona berpotensi menggangu ketahanan pangan. Dibutuhkan langkah cepat agar kebutuhan pangan tetap stabil.



SIDT dan Inovasi
Dewi  menjelaskan, ada empat nilai yang mendasari pembuatan platform SIDT ini yakni mitigasi, solidaritas, kolaborasi, dan ekonomi berbagi.  Mitigasi berarti, platform ini tidak hanya menjaga stabilisasi pasar, tetapi ikut melakukan pencegahan dan penyebaran Covid-19 dan  mampu berinovasi di tengah pandemi terhadap kesinambungan pembangunan desa. Selain itu  solidaritas dan koloborasi semua elemen desa adalah penopang kesuksesan SIDT di Desa.



Toko atau pasar yang dulunya ramai, kini sunyi. Pasar malah menjadi salah satu klaster penyebaran Covid-19. Demikian halnya dalam soal  urusan administrasi ke Kantor Desa tentu di butuhkan inovasi baru yg berdaya guna untuk semua aspek di Desa. 
Di Sejumlah Kabupten di kawasan  Tapanuli Raya , dampak COVID-19 sudah mulai terasa menggerus terhadap sejumlah bidang, hingga saat ini pun Sekolah masih tutup. Namun banyak orang yang masih  pergi ke pasar . Pasar ramai terjadi  transaksi.
  
Berbeda pula dengan daerah lainnya yang sudah terjangkit ada positif,Banyak orang yang enggan pergi ke pasar karena takut terpapar. Pasar lambat laun sunyi dari transaksi.  Fenomena perpindahan model transaksi ini tak hanya terjadi di kota tapi juga merambah desa.

Tentu melihat kondisi ini, muncullah gagasan untuk melakukan transaski secara online hingga pelayanan  dasar administrasi secara online untuk Desa Mitra. Fakta diatas  membuat Tim Kreator SIDT  menggagas pembentukan pasardesa melalui  SIDT (Sistem Informasi Desa Terpadu).

Menurut  Ass. Maneger  SIDT, Dewi Hutabarat, awalnya platform SIDT ini untuk penyajian informasi dasar desa, namun sebap akibat  mitigasi dampak Covid-19  terhadap ketahanan ekonomi dan kepatuhan untuk protokol kesehatan, di seluruh Desa digagasi untuk mengembangkan   platform  SIDT serta Aplikasi SIDT  bisa menjembatani usaha-usaha  yang terdampak di desa , Desa bisa jualan dengan  orang-orang yang masih punya daya beli ",serta menyajikan layanan dasar secara eloktronik online kepada publik ,ujarnya.
Dalam SIDT nantinya mitra hanya diminta untuk menginput produk yang akan dijual. Saat ada pesanan, pengelola SIDT menyediakan kebutuhan konsumen dan memilih toko atau Mitra usaha,dalam hal transaksi  langsung antara konsumen dan Toko/Usaha yang di verivikasi oleh pengelola SIDT.

Platfrom yang sudah dimiliki desa yakni SIDT  yang sudah dapat di unduh di Play Store ini yakni; SIDT TAPUT dapat  dikembangkan   oleh Desa, seperti Toko Desa atau Usaha-usaha Kelompok masyarakat yang ada di desa, juga sebagai Cikal Bakal BUMDES Online Desa, selain itu ,untuk mempermudah warga dalam urusan dasar layanan adminstasi seperti Surat Keterangan dan lainya ,warga tidak harus datang berbondong-bondong  ke kantor Desa. Demikian juga dalam penyajian informasi publik Desa, seperti Informasi BLT dan informasi lainnya sangat tentu di perlukan oleh desa dan warganya.

Untuk itu, peranan  pemerintah Desa untuk mengoptimlakan SIDT dan mencari pedagang-pedagang yang mau dijadikan mitra  bergabung didalam SIDT yang dikelola oleh Desa. Mitra hanya diminta untuk menginput produk yang akan dijual serta model transaksi dan identitas usaha/toko.

"Mitra Toko (yang mengahasilkan produk seperti hasil pertanian,Industri Kecil/UKM dan Hand Made ,Kerajinan Seni,dll)  atau Kelompok terbuka terhadap Konsumen publik dan tidak ada istilah monopoli, semua tergantung konsumen dan mutu- kualaitas  dari produk yang dipasarkan  oleh masing-masing desa melalui SIDT ,namun tetap dalam pengawasan desa dan pemerintah setempat " katanya. Selain itu menurut Dewi, kontrol dilakukan agar  persaingan tetap sehat . Harganya yang dipasang tidak boleh lebih tinggi dibanding yang ada di sekitar.

Menurut Dewi  platform SIDT  dibangun dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari masyarakat desa. Di tengah situasi kini , Dewi  berharap masyarakat masih bisa melakukan  manfaat dan dikembangkankan  untuk desa  melalui platform ini.




Sedangkan nilai solidaritas, kata Dewi , melalui transaksi yang ada  melalui SIDT ,akan memberikan cashback 7  persen  kepada Desa untuk mereka yang belanja di atas  kelipatan Rp 250 ribu , nantinya cashback ini   merupakan sebagai pendapatan usaha desa yang sah  dan   kemudian dapat disalurkan  oleh desa  sebagai bantuan  kepada warga sangat prioritas  yang membutuhkan . "Inilah upaya platform berbagi," katanya dia.
Sementara nilai kolaborasinya, pasardesa.id ini memberdayakan seluruh warung dan toko di desa,pemerintah desa (pengelola SIDT)  setempat sebagai penyedia  dan pengembang SIDT.

Dengan inovasi demikian melalui SIDT , tak salah jika saat peluncuran platform  SIDT pada Desember 2019 lalu ,diharapkan akan mampu juga berinovasi di tengah pandemi. Nah bagi daerah dan desa yang ingin mengembangkan SIDT ini, kami siap membantu daerah dan  desa anda untuk mengembangkannya,tutur Dewi.(Red-TM)


Posting Komentar

0 Komentar