Selasa, 08 Oktober 2019

Politik Foto, Foto Politik




Tapanuli Media Center
Belakangan ini telah terjadi kehebohan gegara foto. Ada yang rame-rame unduh aplikasi FaceApp guna membuat foto wajah menjadi lebih tua, kelihatan muda, brewokan, tersenyum dan beragam efek lain. Ada juga politisi yang dilaporkan ke Mahkamah Konstitusi (MK) gara-gara foto diri dalam kertas suara DPD yang dinilai pelapor dibuat terlalu cantik. Foto memang tak sekedar gambar mati. Foto punya kekuatan yang luar biasa dalam membentuk kesan (image) seseorang.
Seperti telah ramai diberitakan banyak media, calon anggota DPD NTB, Farouk Muhammad telah menggugat Evi Apita Maya ke MK. Evi yang juga maju sebagai calon DPD NTB digugat lantaran dianggap memanipulasi foto pencalonan dirinya sehingga nampak lebih cantik. Dalam dalilnya, Farouk mempersoalkan foto pencalonan Evi yang terpampang dalam kertas suara DPD merupakan hasil editan di luar batas kewajaran.
Bukan kali ini saja urusan foto bikin geger. Beberapa waktu sebelumnya juga pernah muncul kasus yang dipicu foto. Kasus karena sebuah foto pernah menimpa sejumlah orang, mulai dari politisi, artis, selebriti, hingga siswa sekolah. Foto dipercaya sebagai bukti dan fakta nyata, walaupun dalam foto bisa dibuat untuk memperindah fakta aslinya. Tak jarang foto harus diedit, ditata sedemikian rupa agar hasil foto lebih sempurna.
Dalam politik, tak hanya Evi yang fotonya tampil beda. Saat pemilihan legislatif (pileg) waktu lalu, tak sedikit foto caleg yang dibuat lebih indah dari aslinya. Foto sejumlah caleg yang dipasang di pinggir pinggir jalan itu dibuat lebih tampan atau cantik. Sosok sang calon yang biasanya sulit tersenyum misalnya, tiba-tiba gambarnya di baliho, spanduk, umbul-umbul, dan posternya terlihat senyum menawan. Ini fenomena politik foto dalam foto politik.
Memoles Citra
Merujuk pada Teori Image Building yang menyebutkan bahwa, citra akan terlihat atau terbentuk melalui proses penerimaan secara fisik (panca indra), masuk ke saringan perhatian (attention filter), dan menghasilkan pesan yang dapat dilihat dan dimengerti (perseived message), yang kemudian berubah menjadi persepsi dan akhirnya membentuk citra (M. Wayne De Lozier, 1976). Gunawan Muhammad (2008) pernah mengatakan bahwa kehidupan politik telah berubah menjadi lapak dan gerai, kios dan show room. Sebuah masa yang menempatkan penampilan yang atraktif lebih efektif daripada gagasan sosial yang menggugah. Inilah era politik yang menuntut semua kontestan mengelola citra, menampilkan kesan baik di mata masyarakat.
Dalam upaya pencitraan ini, tak jarang segala cara dilakukan. Sering terjadi ketimpangan yang kentara antara kenyataan (realitas) yang dicitrakan dengan realitas yang sebenarnya. Yang sering muncul justru realitas yang bukan sesungguhnya bahkan cenderung realitas yang berlebihan. Yasraf Amir Pilliang menyebutnya sebagai realitas hiper (hyperreality). Lewat olah visual, melalui sudut pengambilan gambar (angle) tertentu dan editing foto lewat beragam software fotografi, wajah yang aslinya biasa-biasa saja bisa tampil luar biasa. Raut muka yang aslinya sulit tersenyum bisa nampak sumeh. Foto sang politisi dipasangi kopyah atau jilbab, foto didesain dengan background tokoh-tokoh besar negeri ini, dan foto ditempel di tengah kerumunan rakyat jelata, sering menjadi andalan sang kandidat dalam upaya tebar pesona.
Bisa jadi sang politisi dalam foto-foto kampanye terlihat tersenyum, tampil memesona. Tak jarang gambar-gambar dalam baliho, spanduk, dan banner kampanye adalah wajah-wajah yang santun, murah senyum, berwibawa, dan berbudi pekerti luhur. Tapi ingat, ini hanya tampilan semu, bukan realitas yang sejatinya. Disinilah politik pertunjukkan itu di kreasi. Dengan permainan citra ini memang cukup terbukti mampu mendongkrak simpati yang ujung-ujungnya bisa mendulang perolehan suara.
Gun Gun Heryanto (2010) menyebut bahwa inilah era komunikasi politik dalam industri citra. Industri citra adalah industri di bidang komunikasi yang fokus urusannya terkait dengan citra. Sebut saja industri media massa, konsultan komunikasi, agen publisitas, industri advertising dan lain-lain. Komunikasi politik di era industri citra memang sangat dinamis dalam hal pengemasan personal maupun organisasional.
Demi Panggung Depan
Menurut Irving Goffman, dalam teori dramaturgi, terdapat dua panggung yakni panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Dalam posisi ini, setiap individu dituntut mampu menampilkan karakter tertentu di panggung depan di mana peran yang dimainkan tersebut bisa jadi berlawanan dengan karakter asli dirinya. Disinilah muncul sebuah kebohongan karena sebuah laku yang sedang dimainkan seseorang yang sejatinya bukan citra diri orang itu yang asli.
Ketika dalam panggung pertunjukkan asli drama, memang tak masalah para pemainnya menampilkan diri bukan sebagai aslinya. Dalam pertunjukkan drama memang tujuan utamanya menghibur penonton, hingga dalam mencapai tujuan itu sah-sah saja dibuat rekayasa. Namun dalam kehidupan politik, tentu peran para aktor politik bukan berfungsi untuk menghibur masyarakat. Sang politisi, para pemimpin partai politik, dan sosok yang sedang ikut berkontestasi dalam pilkada, pileg, dan pilpres hendaknya menampilkan permainan politik yang jujur dan santun. 
Permainan politik yang lebih mengedepankan pencitraan demi tujuan tampil memukau di front stage bukanlah cara berpolitik yang baik. Panggung politik bukan layaknya panggung sandiwara yang bisa saja mengusung tema fantasi dan rekaan (fiksi) semata.

Berada di era politik layaknya sebuah pertunjukkan saat ini memang harus waspada. Mengedepankan sikap kritis dan cerdas menjadi sangat penting guna memilah mana citra yang sejati dan mana pula yang abal-abal. Media massa juga harus memainkan peran idealnya. Media massa jangan sampai terjebak turut menyampaikan informasi yang ujung-ujungnya semakin membawa rakyat pada situasi seperti membeli kucing dalam karung.
Dunia politik idealnya mengedepankan sebuah fakta yang jujur. Politik bukan ajang pembohongan dengan menyulap citra yang memesona. Kalau ternyata fakta sang politisi sosok yang buruk, maka harus diakui dengan legawa. 

Sang politisi bermasalah harus berkaca diri, dan bukan ketika buruk muka lantas cerminnya yang dibelah. Karena sehebat apapun keburukan itu ditutupi, akhirnya pasti akan terbongkar pula.(* Editoril By: Harapan Sagala)

Pasang Iklan Anda di Sini..

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Atensinya.