Minggu, 01 September 2019

Babi dalam Bingkai Kehidupan dan Tradisi Budaya Batak Tulen


Tapanuli Media

Bagi kita khusus di Tapanuli ini  hal serupa  ini tentu  masih ada hingga sampai sekarang , saat masa remaja hal ini  terasa sangat jengkel kita dengar  apalagi disaat Ibu (Inong) kita sepulang dari pesta adat, atau dari tempat kerjanya , maka  Inong kita pasti bertanya  ‘Sudah kau beri makan babi kita, Harapan ?  (Nungga dilean ho mangan babi ta i Harapan) ‘Belum, Inang, (daong dope Inong) ’ jawab Harapan.

Perutmu saja yang kau urus!  Babi ini lebih penting! Tak bisa sekolah kau nak kalau dia mati!’ (Tarhona do butahami parjolo dipareso ho,pinahan an do na un rikkot, dang boi ho sikkola Amang  molo tos akka pinahan i, ujar Inong   sembari memarahi kita  ," maka kita dan Inong akan  menyiapkan makan malam untuk babinya.

”Jujur  saja kita akan jengkel walupun kadang ternak  babi duluan kita kasih  makan,padahal perut kita juga sudah keroncongan. 

Ada kenangan tersendiri saat kita hendak kasih  Gadong atau Ubi yang sudah kita masak itu ,mau kita duluan mencicipi gadong nya  saking laparnya kita  baru kemudian kita kasih dan campur dengan pakan lain untuk ternak babi peliharaan keluarga kita , demikian juga pada pagi harinya sambil kita memasak nasi dan lauk lainnya maka  makan pagi untuk ternak babi pun harus kita persiapkan secara bersama-sama, kalau tidak,,bahh bisa kena repet kita,uang jajan pun bakal tak dikasih orangtua kita.

Nah... hal Anekdot diatas  menunjukkan fungsi ekonomi ternak babi dalam masyarakat Batak terutama di desa-desa di Bona pasogit, memang bagi sebagaian orang hal tersebut terkesan jorok,aneh dan lain, namun itulah realita. Bukan hanya ternaknya saja,  tanam-tanaman orangtua kita yang dikebun mayoritas semua kompos nya itu berasal dari ternak kandang babi kita, dan tentu kalau sudah pulang sekolah menggali dan mengantar  kotoran babi ke kebun wajip kita lakukan.

Mencermati hal diatas  ,secara umum dapat disimpulakan Babi merupakan “tabungan hidup dan dapat diuangkan dengan cepat untuk keperluan pembiayaan yang cukup besar selain itu juga  ternak babi  lazim  dijual untuk biaya sekolah anak-anak terutama yang akan masuk bangku perkuliahan  ke luar  kota Siantar, Medan, dan Jawa untuk biaya merantau pun bagi anak yang sudah tammat sekolah untuk merantau keluar kota  tidak terlepas dari hasil penjulan ternak Babi, Bahkan ada pernah kisahnyata di kampung saya Biaya pesta pernikahan sepasang sejoli  bersumber dari hasil penjualan ternak babi.

Maka  hal itu tidak dapat kita pungkiri dan  Itu sebabnya ada ungkapan “Anak Batak ‘disekolahkan’ dari babi.”

Babi adalah binatang yang paling diminati oleh suku Batak saat ini bahkan dianggap sebagai binatang sumber ekonomi , bila ditinjau dari aspek historisnya tradisi mengkonsumsi babi ternyata baru mulai membudaya pasca masuknya kolonial Belanda. 
Dari berbagi referensi disebutkan Babi awalnya adalah makanan favorit pihak kolonial Belanda, kegemaran mereka dalam mengkonsumi babi kemudian mereka bawa ke tanah Batak. 

Pada zaman dahulu dalam budaya Batak, babi tidak pernah menjadi binatang piaraan, karena binatang ini hidup secara liar di hutan.namun jenis ternak babi itu bermacam macam disetiap daerah bahkan di dunia.

Usaha ternak babi dalam masyarakat Batak merupakan domain perempuan dan anak . Seperti pada masyarakat Papua, babi adalah peliharaan kaum ibu. Mulai dari pembelian anakan, pembesaran, sampai penjualan, semua tanggungjawab kaum ibu.

Ada tiga cara pemeliharaan babi di tanah Batak secara umum:  diliarkan, dikandangkan, dan ditambatkan. Cara meliarkan sudah dilarang pemerintah. Karena tidak sesuai kaidah kesehatan dan keindahan lingkungan. Cara ini digantikan pengandangan tetap di kolong atau di belakang rumah. Cara penambatan lazim untuk pemeliharaan 1-2 ekor babi.

Babi yang dipelihara adalah jantan yang dikastrasi agar cepat tambun. Pagi ditambatkan, sore dikandangkan,"
Menjual babi sangat gampang. Tinggal beri tahu “Tokke Babi” setempat maka babi segera dijemput ke rumah dan langsung dibayar tunai, sesuai timbangan.

Bahkan bukan itu saja hanya memelihara Pejantan Tangguh (Baragas) saja kita akan mendapatkan hasil dari perkawinan ternak jantan babi kita dengan ternak betina-betina milik orang lain, memang sich bagi sebagian kalangan hal ini terkesan aneh,namun secara Biologis hal ini lumrah dan bukan porno.

Babi sebagai Ternak Adat
Tapi bagi orang Batak, babi adalah “ternak adat” terpenting.  Saya sedang bicara fungsi sosial ternak babi. Tidak ada peristiwa upacara adat tanpa peran “korban” babi di dalamnya.  Bukan semata untuk lauk-pauk pesta, tapi untuk keperluan penegasan posisi sosial melalui pembagian “jambar juhut” (upah lauk daging).

“Jambar juhut” adalah bagian-bagian tertentu dari tubuh babi yang diberikan tuan rumah pesta adat kepada kerabatnya yaitu “hula-hula” (pihak pemberi isteri), “boru” (pihak penerima isteri), dan “dongan tubu” (kerabat semarga).

Rumus umum “jambar juhut” itu sebagai berikut: kepala atas (“namarngingi”) untuk “hula-hula”;  rahang bawah (“isang”) untuk “boru”; rusuk/iga (“somba-somba”) untuk hula-hula; dan paha (“soit”) untuk “dongan tubu”. Tidak boleh salah, karena menyangkut pengakuan dan penghormatan pada posisi sosial.

“Jambar juhut” itu pada prinsipnya adalah pemanggungan struktur sosial “Dalihan na Tolu” (Tiga Batu Tungku” dalam masyarakat Batak yaitu “hula-hula”, “boru”, dan “ dongan tubu”. Dengan melihat alokasi “jambar juhut” dalam acara adat Batak, kita segera tahu siapa tuan rumah (“hasuhuton”), serta siapa “hula-hula”, “boru”, dan “dongan tubu”-nya.

Daging Babi Sebagai Kuliner Khas Batak
Bukan Batak (Toba, Kristen) kalau tak pernah makan “sangsang” (cincang) babi. Itu jenis lauk olahan daging babi yang paling lazim dan terkenal di pesta-pesta adat orang Batak.
Kekhasan “sangsang”, dibanding cincang (sapi) Padang misalnya, ialah dimasak dengan mencampurkan darah matang (saren), yang memberi rasa gurih. Tanpa pencampuran darah maka bukan “sangsang” namanya.

Selain “sangsang”, ada dua jenis lauk olahan daging babi yang khas Batak juga yaitu “tanggo-tanggo” (semacam gulai) dan “lomok-lomok” (semacam gajebo). Jenis masakan ini biadanya disajikan dalam pesta adat keluarga skala kecil.

Pada pesta adat besar, “sangsang” disiapkan dan dimasak dalam jumlah besar. Orang-orang yang menyiapkan masakan ini disebut “parhobas” (pelayan), yaitu pihak “boru” dari tuan rumah pesta.

Demikian sekilas hal  fungsi ternak babi dalam masyarakat Batak  dan menurut pemikiran awam saya fungsi babi ini juga dapat dikembangkan sebagai potensi wisata.
Sistem “jambar juhut” dapat dipanggungkan sebagai wisata budaya, dengan melibatkan wisatawan di dalamnya. Ini benar-benar khas budaya Batak.

Pro Kontara Kehadiran Babi dalam Kehidupan Sebagai mahluk Ciptaan Tuhan

Berbicara tentang larangan mengonsumsi babi dalam kaitan masyarakat Batak tentunya harus dilihat dari aspek ruang dan waktu menyangkut etnografi masyarakat Batak pada waktu dan tempat yang dibatasi seperti penyebaran agama-agama formal pada masyarakat.

Babi merupakan shio terakhir dari dua belas shio yang dipercaya orang Tionghoa. Menurut salah satu mitos, Kaisar Langit memasukan Babi di shio terakhir karena berdasarkan datangnya pesta. Babi terlambat datang karena ia ketiduran.

Ada kisah lain menyebutkan, dia terlambat datang karena harus membangun dulu rumahnya yang hancur karena serigala. Ketika dia tiba, dia adalah yang terakhir dan hanya bisa menempati posisi kedua belas.

Babi juga dikaitkan dengan Cabang Bumi, dan jam 9-11 di malam hari. Dalam istilah yin dan yang, Babi adalah yin. Dalam budaya Tiongkok, babi adalah simbol kekayaan. Wajah gemuk dan telinga besar mereka juga merupakan tanda keberuntungan. Babi memiliki kepribadian yang indah dan diberkati dengan keberuntungan dalam hidup.

Dari pemahaman konflik tersebut, kaitan terhadap rumusan masalah menyangkut pelarangan babi dalam pesta adat Batak itu sendiri yang berpotensi mengakibatkan terjadinya konflik. 

Potensi konflik di sini dapat diprediksi berdasarkan adanya pertentangan pendapat akan perlu tidaknya Fauna Dalam Arkeologi 63 babi sebagai komponen makanan dalam pesta adat Batak.

Tingginya potensi konflik tersebut, dapat dilatarbelakangi karena perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi sosial. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual tersebut dalam interaksi sosial, potensi konflik menjadi sebuah situasi yang wajar. Memang potensi konflik tersebut hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya sekat menyekat cara pandang kita masing-masing  dan  tentunya hal tersebut menjadi sesuatu yang paling tidak diharapkan oleh semua pihak.

Perbedaan cara pandang mereka pada dasarnya sangat wajar terjadi. Apalagi pluralitas agama merupakan realitas terkini masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam sub-sub sistem yang bisa saja berdiri sendiri-sendiri, namun yakinlah perbedaan itu Indah se indah Danau Toba.

Satu kepentingan tersebut tidaklah  harus bergesekan dengan satu kepentingan yang lain, umpamanya  Seorang Batak yang ber Agama  Islam yang tidak mau datang ke pesta adat keluarga adik perempuannya yang kebetulan beragama Kristen dan hanya bisa membuat daging babi , hal ini kan tentu dapat diatasi dengan menyiapkan menu ksusus parsubang dan tentu menu tersebut tersendiri dipersiapkan oleh saudara kita umat muslim .Padahal dalam pesta tersebut mereka adalah pihak hula-hula.Niscaya  Potensi konflik intern pun semakin terjadi akibat ketidaksepahaman dalam memandang babi sebagai komponen adat dalam upacara atau tidak.


Demikian juga kalau ada tempat wisata yang ada babinya apakah tidak harus dikunjungi, mari kita berpikir logis, jangan lihat babinya, namun tujuan anda datang kesana untuk  melihat objek  Pariwisatanya.

Masyarakat Batak mula-mula pun sudah mengenal babi dengan merujuk suku-suku tradisional di indonesia. Kalau sebagian ada yang mengatakan kalau daging babi adalah komponen dari adat Batak, yang jadi pertanyaan selanjutnya, bagaimana suatu saat kalau babi punah atau susah ditemukan apakah adat Batak itu sendiri jadi punah. 

Juga halnya Kalau tidak ada babi bagaimana mungkin riset kesehatan dapat berkembang karena babi sering dijadikan sebagai bahan percobaan pengganti manusia dalam eksperimen penelitian kesehatan. Ada juga yang mengatakan rata-rata orang Cina bisa pintar berdagang karena sejak kecil diberikan sup kacang merah babi. 

Hal perbedaan dan cara pandang akan  Babi  sebaiknya tidak menjadi potensi konflik sebap apapaun di bilang, Kita tidak bisa mendustakan bahwa Babi itu itu adalah bagaian Budaya dan Adat Batak, Babi itu juga mahluk Ciptaan Tuhan. (#Harapan Sagala - dan Berbagai Sumber)
Pasang Iklan Anda di Sini..

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih Atensinya.