Rabu, 12 Juni 2019

Mengabdi Jadi Guru di Pedalaman ,Bripka Bastian Tuhuteru Jadi Polisi Teladan Tingkat Nasional


Tapanuli Media

Pengabdiannya tanpa batas untuk mengajar anak-anak di pedalaman Pulau Buru, Maluku, membuat Brigadir Kepala Bastian Tuhuteru (31) dinobatkan Polisi Teladan Tingkat Nasional.
Ia terpilih sebagai peringkat 1 setelah menyisihkan 68 personel Polri dari seluruh Indonesia. Bripka Bastian menerima langsung penghargaan dan bonus Rp 100 juta dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian saat Musrenbang Polri yang berlangsung di Jakarta, Rabu (12/6/2019).
Bastian yang kini menjabat Kepala Unit Binmas, Polsek Namrole, Polres Pulau Buru, Polda Maluku, membagikan waktunya untuk mengajar anak-anak itu di sela tugasnya sebagai polisi.
Bintara kelahiran Hatusua 20 Juli 1987 itu mengajar di sejumlah kampung di pedalaman Pulau Buru yang belum memiliki gedung sekolah. Salah satunya di komunitas adat terpencil Dusun Walapau, Desa Wamlama, Kecamatan Namrole, Kabupaten Buru Selatan.
Walapua adalah satu dari sejumlah kampung di daerah itu yang masih terisolasi. Jaraknya dari Namrole, ibu kota Kabupaten Buru Selatan, sekitar 20 kilometer.
Walapua merupakan dusun di pegunungan tanpa jalan memadai. Untuk menjangkaunya, orang harus berjalan kaki selama berjam-jam melewati jalan setapak dan menyeberangi dua sungai.
Tenaga pengajar terutama dari luar daerah, jarang ada yang berani masuk ke dusun itu. Apalagi beberapa catatan kriminal seperti pembunuhan berencana secara sadis pernah terjadi di wilayah ini.
Bastian termasuk polisi pertama yang menembus dusun itu. Bila musim panas, ia datang ke dusun itu dengan motor trail. Bila musim hujan dia menunggu air sungai surut. Dia menyeberang juga seperti saat mengantar kotak suara pada pemilihan Gubernur Maluku, Juli 2018 lalu.
Dalam suatu kesempatan saat bertugas di sana pada 2016, Suami dari Tasya Salelatu dan ayah dari Dion Tuhuteru dan Mecky Tuhuteru itu mendapati banyak anak di kampung itu tidak sekolah lantaran tak ada gedung sekolah. Setiap hari mereka mengikuti orangtua ke hutan, meramu dan berburu. Melihat orang baru mereka tidak mau mendekat.
Sarjana pendidikan dengan studi khusus ilmu bimbingan konseling itu, lalu mendekati tokoh adat dan menyampaikan niat untuk mengumpulkan anak-anak. Pada awalnya, inisiatif itu ditolak.
Warga kampung yang hingga saat ini menganut kepercayaan lokal di bawah pimpinan kepala kampung, curiga bahwa Bastian sedang menjalankan misi penyebaran agama.
Namun ia tidak menyerah dan berulang kali datang ke sana. Ia juga berusaha mendekatkan diri dengan mempelajari bahasa lokal.
Warga kampung yang mulai percaya kepada Bastian akhirnya memperkenankan Bastian mengajarkan baca-tulis kepada anak-anak di sana dengan catatan tidak boleh menyebarkan agama.
Setelah mendapat restu dari para tetua, Bastian lalu ke Namrole untuk membeli peralatan ajar seperti kertas, spidol, poster angka, dan huruf.
Tak lupa beberapa bungkus permen untuk oleh-oleh sekaligus penarik bagi anak-anak. Dengan memberikan permen atau mengajak berboncengan sepeda motor, anak-anak pedalaman sangat senang. Setiap kali mendengar bunyi sepeda motor menuju kampung, anak-anak akan berlari menjemputnya.
Pada awalnya mereka belajar di tenda darurat. Di bawah terpal tanpa dinding itu Bastian mulai memperkenalkan huruf dan angka. Mengajari mereka menulis dan menggambar serta menyanyi lagu “Indonesia Raya” dan menghafal sila-sila Pancasila.
Setelah dari tenda mereka pindah ke salah satu rumah warga. Ia lalu mengajak warga untuk membangun sekolah darurat berukuran 6 meter x 5 meter.
Melihat semangat anak-anak dan warga di sana, Bastian menginginkan agar sekolah darurat itu menjadi cikal bakal lahirnya sekolah. Ia lalu mendekati Dinas Pendidikan Kabupaten Buru Selatan untuk meminta dukungan.
Ia mengajukan izin sekolah dan meminta dinas menempatkan guru disana. Tahun lalu, sekolah itu diresmikan. Kini sekolah itu memiliki tiga angkatan dengan jumlah siswa 40 orang. Seorang guru merangkap kepala sekolah ditugaskan di sana.
Selain mengajar di kampung itu, Bastian juga mengajar anak-anak di beberapa kampung lain di Pulau Seram dan wilayah lain pedalaman Pulau Buru saat ada penugasan khusus. Bahkan, ia juga mengajar lansia.
Nalurinya sebagai seorang guru selalu muncul bila melihat anak-anak di pedalaman tidak mengenyam pendidik.
Di tas ranselnya, dia selalu membawa serta pena, kertas, dan tentu saja permen. Biaya yang dikeluarkan untuk mengajar di pedalaman itu ia sisikan dari penghasilannya.
Pengabdian tanpa pamrih yang dilakukan Bastian bukan hanya mengajar di pedalaman. Sejak menjadi lulus dari SPN Polda Maluku dan menjadi anggota Polri pada 2005, ia juga sambil kuliah pada jurusan Bimbingan Konseling FKIP Universitas Pattimura. Ia lulus dan mendapat gelar Sarjana Pendidikan pada tahun 2012.
Saat ditempatkan di Direktorat Sabhara Polda Maluku, ia kerap mengunjungi para tahanan di Rumah Tahanan Polda Maluku di Ambon. Tujuanya untuk memberikan konseling. Pada tahun 2015, Bastian dimutasi ke Polres Buru dan ditempatkan di Polsek Namrole sampai saat ini.
Atas pengabdian itu, Bastian mendapatkan sejumlah penghargaan dari Polres Buru. Selanjutnya Pada Senin (18/3/2019), Kapolda Maluku Irjen Pol Royke Lumowa memberikan penghargaan kepada Bastian di Ambon.  Ia pun dikirim mewakili Polda Maluku untuk mengikuti seleksi Polisi teladan tingkat Nasional dan hasilnya ia memang layak menyandang Polisi Teladan tingkat Nasional.( Jonathan Frendik)
Pasang Iklan Anda di Sini..

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih.