Selasa, 08 Januari 2019

Tarif Makanan Mahal di Samosir ,Dinas Pariwisata Tak Punya Kewenangan Atur Tarif Makanan di Objek Wisata


TapanuliMedia Center

Terakait viralnya Kawasan wisata Danau Toba di Samosir  yang sempat menjadi sorotan akibat peristiwa viralnya unggahan di media social terkait struk pembayaran harga makanan dan minuman di kawasan tersebut yang dinilai terlalu mahal bagi wisatawan.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara, Hidayati, ketika dikonfirmasi wartawan di gedung DPRD Sumut, Selasa (8/1/2019), hanya bisa memberi tanggapan atas peristiwa tersebut bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan selain mengimbau kepada pelaku-pelaku usaha di lokasi wisata yang ada. 
"Kita hanya bisa menghimbau, karena ini kan kebijakan instansi terkait yang menangani itu. Kalau kami ini kan user yang juga dirugikan atas peristiwa ini. Kami hanya kena imbasnya,” kata Hidayati.
Hidayati mengungkapkan, seharusnya ada penentuan tarif yang normal di lokasi wisata meskipun di peak season (musim ramai).
Paling tidak jangan terjadi kenaikan gila-gilaan. Tidak fluktuasi seperti itu kecuali ada kenaikan harga, misalnya harga cabe melambung,” ujarnya.
Hidayati mengakui, dinilai dari aspek kepariwisataan, sadar wisata belum melekat ke seluruh aspek di Sumatera Utara. Selain makanan, pelaku usaha juga kerap menaikkan tariff hotel saat banyak tamu datang, sehingga membuat pengunjung sering kecewa. Menurut Hidayati, jika semua pihak sadar wisata, maka wisatawan akan datang lagi berkunjung.
“Mereka sebagai pelaku usaha sering kali tidak memikirkan kelanjutannya. Kondisi itu tidak hanya terjadi di Sumut tapi di tempat-tempat wisata lainnya,” ujarnya. 
Hidayati menegaskan, pihaknya pernah melakukan imbauan agar pelaku usaha tidak memanfaatkan kondisi hari libur dengan menaikkan harga secara drastic, baik tarif hotel, tiket dan harga makanan. 
"Karena kalau tiba-tiba naik kan, orang terkejut. Pernah kami lakukan untuk itu, tapi cuma imbauan saja. Itu ketika FDT (Festival Danau Toba) kemarin berlangsung, kami juga sampaikan pada pihak hotel supaya harga (kamar) tidak dinaikkan," katanya. 
Dikatakan Hidayati, pihaknya sudah menyiapkan tim sadar wisata dengan melibatkan masyarakat dan stakeholder terkait lainnya, untuk mensosialisasikan kepada masyarakat, agar lebih paham sadar wisata.
Diketahui baru-baru ini masyarakat dihebohkan dengan viralnya unggahan struk pembayaran harga makanan dan minuman yang dinilai terlalu mahal bagi wisatawan saat berkunjung di salah satu tempat wisata di Pulau Samosir.
Unggahan pemilik akun sosmed atas nama Juliati Sagala itu mendapat kritik dan komentar dari para netizen. Dalam unggahannya, Juliati Sagala menilai harga kuliner di Pulau Samosir terlalu mahal untuk satu set meja Rp30 ribu, 1 kopi hitam Rp15 ribu, teh manis Rp15 ribu x 3 gelas= Rp 45 ribu, dan air mineral Rp 10 ribu, dengan total keseluruhan berjumlah Rp 115 ribu. (By :Indra Widyastusti-NG: Harapan Sagala)
Pasang Iklan Anda di Sini..