Kamis, 10 Januari 2019

Benarkah Limbah Jasa Cuci Mobil dan Cuci Pakaian sebagai Salah Satu Penyumbang Pencemaran Sungai dan Kali di Indonesia


TapanuliMedia Center
Jasa pencucian mobil dan jasa cuci pakaian atau laundry tahun belakangan ini tumbuh bagaikan jamur di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sebagian besar usaha mereka adalah jasa usaha rumah tangga yang sulit dikontrol oleh Pemerintah Daerah dan mungkin juga sebagian tidak mempunyai izin usaha, sehingga tidak memiliki kelayakan dalam tata kelola air tanah, kebersihan dan dampak lingkungan.

Sebagaimana dengan polemik yg muncul belakangan ini Ditemukannya tumpukan busa tebal berwarna putih yang menutupi permukaan Kali Sentiong atau lebih dikenal dengan sebutan Kali Item di Kemayoran, Jakarta Pusat misalnya, telah menjadi perbincangan hangat belakangan ini di media sosial. Pihak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan bahwa ternyata tumpukan busa tersebut diduga bersumber dari limbah detergen dan limbah rumah tangga yang dibuang langsung ke kali. Pekerja bisnis rumahan berupa usaha cuci pakaian dan cuci mobil diduga banyak yang langsung membuang limbahnya di got atau saluran depan tempat usahanya.

Hal ini diakui oleh sejumlah pemilik usaha tersebut, sebagaimana yang terjadi pembuangan sisa air cucian dari bisnis cuci mobil dan cuci pakaian di sekitar Kali Sentiong. Memang ada juga pengusaha dalam menjalankan bisnis tersebut telah memiliki tempat pembuangan limbahnya dan mengalirkan sisa air cucian yang sudah terbebas dari pencemaran. Sehubungan dengan kasus tersebut, maka Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan akan mengatur usaha cuci mobil dan jasa cuci pakaian yang berhubungan dengan lokasi dan pengolahan limbah kedua jenis usaha tersebut. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga akan membangun sekitar sepuluh instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di perkampungan warga agar limbah rumah tangga diharapkan tidak lagi dibuang ke kali dan sungai.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan diharapkan juga mengkaji ulang standar penggunaan bahan-bahan detergen, karena masalah limbah detergen ini bukan hanya terjadi di Jakarta saja, tetapi juga di seluruh Indonesia. Solusi untuk mengatasi pencemaran sungai dan kali memang seharusnya dimulai dari hulu, yaitu bagaimana mengatur penggunaan detergen yang ramah lingkungan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Balai Sertifikasi Industri dari Kementerian Perindustrian telah mengeluarkan aturan Standar Nasional Indonesia 4594 tahun 2010 tentang detergen bubuk. Bahan detergen yang banyak beredar di pasaran di Indonesia ini diduga sebagian besar dalam bentuk hard detergent, karena kalau kita bandingkan dengan negara-negara maju, mereka sudah menggunakan yang namanya soft detergent yang sudah tidak ada kandungan fosfatnya lagi.

Sebagaimana contoh negara-negara maju seperti Jepang dan Australia telah menggunakan soft detergent yang tidak mengandung fosfat, sehingga detergen itu tidak akan mengeluarkan buih busa dan lebih ramah lingkungan. Dengan penataan perizinan, penyediaan tempat pembuangan limbah yang memadai dan kesadaran masyarakat dalam membuang limbah, semoga limbah dari usaha cuci mobil dan cuci pakaian ke depannya tidak lagi disebut sebagai salah satu penyumbang pencemaran sungai dan kali di Indonesia. (by:Alit Wiratmaja)
Pasang Iklan Anda di Sini..