Rabu, 21 November 2018

Muara dan Ledakan Pengunjung Bandara Internasional Silangit.



Pariwisata telah mengalami ekspansi dan diversifikasi berkelanjutan dan menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar dan tercepat pertumbuhannya di dunia. Dalam artian, investasi pariwisata sangat menjanjikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat apabila dikelola dengan baik. Oleh banyak Negara, pariwisata dijadikan faktor kunci utama dalam pendapatan negara, penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha dan infrastruktur.

Presiden Joko Widodo menargetkan Danau Toba akan dikunjungi sejuta wisatawan setiap tahunnya. Demi pencapaian itu, pemerintah menetapkan Kawasan Danau Toba  (KDT)  sebagai  Kawasan  Strategis  Nasional  (KSN)  bidang  pariwisata  yang selanjutnya disebut sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Danau Toba pun ditetapkan menjadi salah satu destinasi pariwisata prioritas Indonesia atau satu dari 10 Bali baru melalui Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 . Percepatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional ini, pemerintah melakukan percepatan pembangunan infrasturktur transportasi, listrik dan air bersih guna menunjang pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional. Untuk itu pemerintah telah mengeluarkan anggaran sebesar 20 trilyun.

Guna  mempercepat pengembangan dan pembangunan, pemerintah kemudian membentuk BOP Danau Toba  (Badan  Otorita  Pengelola  Kawasan  Pariwisata Danau Toba. Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo pada tanggal 1 Juni 2016 menandatangani Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba. Dalam Perpres ini disebutkan, untuk melaksanakan pengembangan Kawasan Pariwisata Danau Toba dengan membentuk Badan  Otoritas  Pengelola  Kawasan  Pariwisata Danau  Toba yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Kebijakan Presiden Joko Widodo ini bukan hanya dikebut oleh Kementerian Pariwisata Indonesia, juga  langsung direspon oleh berbagai kepala daerah kabupaten yang ada di kawasan Danau Toba. Bagaimana tidak merespon, dengan adanya keputusan pemerintah pusat tersebut daerah yang dianggap mampu bersinergi akan mendapatkan kucuran anggaran pembangunan yang cukup besar dari lintas kementerian terkait seperti, Kementerian Pariwisata,  Kementerian Pekerjaan  Umum dan Perumahan Rakyat,  Kementerian Perhubungan dan  Kementerian Kordinator Bidang Kemaritiman juga dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia.

Respon super sekali dilakukan oleh Bupati Tapanuli Utara Drs. Nikson Nababan, M.Si. Dengan tekad menjadikan wilayah yang berada di perairan Danau Toba yakni Muara sebagai pintu gerbang masuknya wisatawan ke Danau Toba.

Guna memperkenalkan Muara yang katanya memiliki panorama terindah Danau Toba, berbagai event dilakukan. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara dan pemerintah pusat baru-baru ini, menggelar Festival Tenun Nusantara 2018 yang prakarsai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tapanuli Utara, Muara dan Pulau Sibandang sengaja dipilih menjadi salah satu lokasi pagelaran.

Unsur kesengajaan pemilihan lokasi dinilai dari tema festival yang dilaksanakan 13-17 Oktober, yakni merevitalisasi kebudayaan yakni ulos batak, menggali dan mengkemas ulos Batak agar lebih dikenal masyarakat luas. Kaum ibu di Muara hampir 15 persen hidup dari hasil kerajianan tenun ulos.

Memperkenalkan Muara sebagai objek tujuan wisata, panitia juga menggelar Ritual budaya lokal yakni Ritual Ulaon Matumona. Ritual budaya pesta pengucapan syukur atas hasil panen yang diperoleh dan juga penyampaian doa kepada Yang Maha Kuasa agar masyarakat Muara mendapatkan kesehatan dan keselamatan serta hasil panen yang lebih berlimpah pada penen berikutnya.

Melirik kebelakang lagi, Festival Danau Toba yang digelar pada 9-12 November 2016 juga dipusatkan di daerah ini.  Fesival dengan puncak acara yakni fashion show berbahan tenun ulos Batak ini  terbukti menyedot pengunjung yang hadir  hingga ribuan orang. Bukan hanya pengunjung, festival Danau Toba juga menarik perhatian kaum jurnalis, penggiat media sosial yang mengeksplotasi kegiatan juga kehidupan dan kultur budaya masyarakat Muara.

Dukungan juga datang dari Kementerian Perhubungan, Bandara Silangit yang berada di Siborong borong, juga dibenahi. Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan bersama dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bekerja sama mengelola dan meningkatkan pembenahan bandara agar dapat di darati oleh pesawat berbadan besar. Hasil jerih payah ini mendapat respon positif, oleh Presiden Joko Widodo, bandara ini kemudian diresmikan menjadi Bandara Internasional Silangit pada 24 November 2017.

Bandara Internasional Silangit berkapasitas 500.000 penumpang per tahun ini sudah dilengkapi dengan fasilitas CIQ (Custom, Immigration, Quaratine), runway dengan panjang 2.650 x 40 meter, dan PCN yang bisa mengakomodasi pesawat berbadan sempit jenis Airbus A320 dan Boeing 737-800.


Tekad Tapanuli Utara menjadi pintu masuk ke Danau Toba memiliki atraksi yang sangat kuat dalam meningkatkan jumlah penumpang di Bandara Silangit ini. Tahun 2015 bandara ini hanya dikunjungi 15.000 penumpang, namun pertengahan tahun 2018 jumlah kunjungan sudah mencapai 270.000 penumpang. Bila lebih rinci lagi, pergerakan pesawat pada tahun 2016 mencapai 2000 penerbangan dan naik signifikan tahun 2017 sudah mencapai 3000 penerbangan. Diharapkan pada 2018 bisa mencapai setidaknya 3.500 penerbangan.

Adanya angka peningkatan jumlah kunjungan ini, mungkin menjadi faktor keputusan dari maskapai Malindo Air dan Air Asia membuka rute Silangit Subang dan Silangit Kuala Lumpur Malaysia. Keputusan untuk menggaet bisnis keuntungan dari tingkat kunjungan wisata ke Danau Toba melalui Bandara Internasional Silangit.

Yang lebih keren lagi, pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional IMF dan Bank Dunia di Washington DC yang digelar pada 21 April 2018, sejumlah pemimpin dan pengambil kebijakan keuangan dunia mengenakan ulos, termasuk Direktur IMF Christine Lagarde, Ketua Komite Keuangan dan Moneter Internasional (IMFC) Lesetja Kgangyago, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardoyo dan beberapa gubernur bank negara-negara lain.

Ulos kembali menjadi salah satu cendera mata utama dalam perhelatan pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Bali. Pemimpin dan pengambil kebijakan keuangan dunia di atas panggung acara “Bali Fintech,” terlihat menyampirkan ulos, dan ini kembali menjadi menjadi sorotan luas. Juga dalam pertemuan ini, seluruh peserta disaran oleh panitia untuk mengunjung Danau Toba. Ini semua dilakukan demi peningkatan kunjungan Wisatawan ke Danau Toba.

Gambaran di atas adalah suatu bentuk dukungan pemerintah terhadap peningkatan perekonomian masyarakat di bidang pariwisata secara khusus di Danau Toba. Menjadikan Tapanuli Utara yakni Bandara Silangit menjadi pintu gerbang ke kawasan Danau Toba tidak semata tugas pemerintah. Lebih dari itu sejumlah stakeholder terkait harus turut berperan aktif. Apakah masyarakat Tapanuli Utara hanya jadi penonton?

Saat ini, wisatawan yang datang melalui Bandara Silangit menuju seluruhnya langsung bertolak ke Samosir maupun Parapat. Hampir tidak ada singgah dan di Muara. Muara hanya sebagai perlintasan penyeberangan saja ke Samosir. Ini yang menjadi tantangan dan harus dijawab.

Pengelolaan objek wisata yang baik dengan konsep pembangunan yang  baik pula dapat meningkatkan standar kualitas dari objek wisata tersebut. Pemerintah dan stake holder sudah harus menerapkan konsep objek wisata yang terstuktur, juga memelihara tradisi budaya yang menjadi objek wisata serta menambah wawasan masyarakat terhadap kawasan objek wisata.
Sama halnya dengan kawasan Samosir, Muara yang berada di kawasan perairan Danau Toba selain memiliki panorama keindahan alam, kultur budaya dapat dijadikan andalan untuk menjadi suatu destinasi yang baru.

Budaya memiliki daya tarik sebagai objek wisata. Ulaon Matumona, ritual ucapan syukur dan permohonan keselamatan kepada Yang Maha Kuasa nyaris punah dan tidak dipahami oleh generasi muda. Gelar ritual harusnya sudah dijadwalkan setiap tahunnya. Selain menjaga kelestarian, pagelaran bias dijual sebagai objek wisata.  Termasuk keberadaan perkampungan rumah adat batak yang berusia ratusan tahun yang masih berdiri kokoh di Desa Aritonang.

Banyak lagi yang bisa digali dan kembangkan seperti, olah raga gantole dari penatapan Desa Huta Ginjang, Air terjun Sidimpura dan areal persawahan sasering atau argropertanian di Desa Silalitoruan. Situs batu Marhosing di Desa Unte Mungkur, Kebun mangga yang tumbuh hampir di seluruh desa di Muara.  Juga rumah batak kuno dengan pagar batu tersusun serta penggunaan peralatan rumah tangga kuno yang berada di Pulau Sibandang. Sejauh ini potensi di atas masih bersifat catatan untuk di kunjungi, namun pengelolaannya sebagai objek wisata sangat jauh dari yang diharapkan.

Wisata Terasering Sawah di Desa Silalitoruan bila dikelola dapat menjadi tempat yang menarik dan didatangi wisatawan. Terlebih wisatawan asing yang ingin merasakan suasana khas pedesaan.  Hamparan sawah berundak yang disajikan oleh alam Silalitoruan ini debenarnya sangat menyejukkan mata. Di Bali, objek wisata seperti ini tidak terlewatkan oleh pengunjung.

Komunitas pengerajin ulos yang sangat besar jumlahnya terutama di Pulau Sibandang juga harus mampu dijadikan sebagai bahan referensi pengunjung. Kerajinan tenun ulos Batak yang menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) serta penggunaan pewarna alami bila dikembangkan dan dipromosikan akan menjadi daya tarik tersendiri, seperti pengerajin tenun di Desa Gamplong Yogyakarta.

Selain sebagai desa wisata kerajinan, di desa ini juga menyediakan workshop untuk belajar menenun bagi para wisatawan. Pengunjung dapat menikmati proses pembuatan kain tenun dan dapat belajar langsung menenun yang akan didampingi oleh ibu-ibu pengrajin tenun. Di desa ini juga terdapat galeri yang memajang berbagai macam hasil karya para pengrajin di desa Gamplong.

Bagi wisatawan, penginapan menjadi hal penting dipikirkan terutama bila berkunjung ke destinasi yang baru. Homestay akan menjadi pilihan yang tepat bagi wisatawan. Bila dibandingkan menginap di homestay jauh lebih menarik daripada di hotel. Selain harga lebih murah, menginap di homestay akan memiliki pengalaman dan daya tarik tersendiri seperti adanya interaksi antara pengunjung dan pemilik homestay minimal bercengkrama dan minum kopi bersama, hal ini tidak kita dapat bila menginap di hotel. Selain itu, nuansa kedaerahan tercipta bila menginap di homestay dan ini ternyata menjadi daya tarik pengunjung terutama wisatawan asing.  Muara yang memiliki ratusan rumah adat Batak dapat dikemas menjadi homestay berskala hotel. Seiring dengan program Kementerian Pariwisata yang mengembangkan program Homestay Desa Wisata untuk bisa menarik 20 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2019. Nuansa kedaerahan di setiap wilayah pun akan lebih terasa sehingga liburan khas Indonesia akan semakin berkesan. Indonesia terkenal di mancanegara karena keberagaman suku dan budayanya. Hal ini pula yang membuat wisatawan lokal maupun asing datang untuk berkeliling ke berbagai objek wisata di Nusantara. Mengembangkan sektor pariwisata lewat kearifan lokal inilah yang harus dijemput oleh masyarakat Muara dan pemerintah kabupaten agar pelaku usaha rumah wisata, dapat tumbuh dan pada akhirnya turut mengembangkan pariwisata Muara lewat homestay berarsitektur rumah Batak.

Mewujudkan Tapanuli Utara Sebagai pintu masuk Danau Toba juga sudah didukung oleh potensi objek wisata yang sudah lama di kenal yakni Wisata Iman Salib Kasih Tarutung yang berada di perbukitan Siatas barita. Selain itu, potensi wisata sejarah misionaris IL Nomensen dan misionaris Samuel Munson dan Henry Lyman juga harusnya bisa dijual menjadi paket perjalanan wisata.

Selain potensi alam dan potensi budaya, potensi masyarakatnya juga harus dipersiapkan. Wawasan dan kesadaran  masyarakat terhadap objek wisata harus ditinggkatkan. Senyum sapa salam yang dicanangkan oleh Bupati Nikson Nababan harus benar-benar dilaksanakan. Masyarakat dan pelaku wisata harus memberikan keramahan, kenyamanan, perlindungan keamanan dan keselamatan bagi wisatawan. Menjaga nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat serta memberikan pelayanan yang tidak diskriminatif. 

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2016 tentang Desa dan Undang Undang Nomor 12 Tahun 2019 tentang cagar Alam bila, diterapkan akan dapat menyulap potensi desa-desa di Muara menjadi destinasi wisata. Pembangunan desa wisata dalam rangka pembangunan pariwisata yang berkelanjutan serta upaya diversifikasi objek wisata yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, pelestarian seni budaya dapat diterapkan di Muara. Letak yang strategis, keragaman potensi alam dan potensi budaya menjadi modal dasar dibentuknya desa wisata yang menunjang tingkat kunjungan wisata di Danau Toba.

Penetapan desa wisata harus berprinsip pada memanfaatkan sarana dan prasarana masyarakat setempat, melibatkan masyarakat setempat, menguntungkan masyarakat setempat, terjalinnya hubungan timbal balik wisatawan dan masyarakat setempat serta menerapkan pengembangan produk wisata desa.

Untuk mewujudkan ini semua, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara harus segera mengeluarkan peraturan daerah tentang kawasan wisata dan peraturan daerah tentang pembentukan desa wisata. Dengan peraturan daerah serta regulasi aturan yang dikeluarkan akan lebih memudahkan pemerintah kabupaten bersama pemerintahan desa  untuk mengembangkan objek wisata terutama dalam pengucuran anggaran. 

Pariwisata dengan berbagai macam kegiatan wisata, fasilitas serta layanan dukungan harus segera dibenahi dan dibangun. Kesadaran masyarakat akan wisata juga harus ditumbuhkan dengan melibatkan mereka pada organisasi masyakakat desa dalam bentuk kelompok sadar wisata (Pordakwis).

Potensi pariwisata suatu daerah dengan beragam mulai dari keindahan alam dan adat istiadat atau budaya dan keramah tamahan penduduknya hingga kesiapan sarana  dan  prasarana  pendukungnya hal  ini  sangat  ideal  sekali  dalam  proses perencanaan dan pengembangan pariwisata suatu destinasi pariwisata ke depannya dan  dapat  dijadikan  sebagai  mesin  penghasil  devisa  bagi  suatu  daerah  dimana pariwisata  itu  berkembang.

Danau Toba memiliki  ukuran yang sangat luas dan dinobatkan  sebagai  danau terbesar  di Asia  Tenggara dan terbesar  kedua  di dunia setelah  Danau Victoria di  Afrika. Danau ini juga  menjadi  salah  satu danau terdalam di dunia  dengan  kedalaman  sekitar  450  meter. Danau  Toba merupakan salah  satu keajaiban  alam yang  menakjubkan di  Pulau  Sumatra.
Danau Toba telah  menjadi  destinasi  wisata  masa  depan  Indonesia maka  secara langsung dan tidak langsung memberikan implikasi terhadap kesejahteraan masyarakat. Kebijakan  pemerintah  yang tepat dan aturan-aturan yang  sesuai akan memberikan kepastian terhadap perbaikan ekonomi masyarakat di Danau  Toba seperti Muara.

Bupati Tapanuli Utara Drs. Nikson Nababan, M.Si dalam beberapa kesempatan selalu mengatakan Bandara Internasional Silangit harus menjadi pintu masuk wisatawan ke Danau Toba. Muara sebagai lintasan harus dapat merasakannya.  Ayo, mari bersama kita mewujudkannya. (Lomba Karya Tulis Pemkab.Taput Tahun 2018 a/n Tulus Sibuea  )
Pasang Iklan Anda di Sini..
Untuk Informasi dan Konsultasi Sistem Informasi Desa(SID)Di Desa Anda...Silahkan Hubungi Kami.CV.TAPANULI MEDIA.Tlp.081265186770. Email:redaksitapanulimedia@gmail.com ..Kami Siap membantu Desa Anda...
DAIRI
TAPUT
HUMBAHAS SAMOSIR
NUSANTARA
SOROTAN PUBLIK