"The GodFather" Kisah Mafia Sepanjang Masa


TAPANULIMEDIA,Cerita
Le Parrain
, kurang lebih artinya sama dengan Godfather. Judul sebuah lagu dengan irama yang sungguh menyentuh. Saya senang sekali mendengarkannya. Nada-nada yang rasanya mewakili cita rasa Sisilia (Italia Selatan). Irama yang juga menjadi soundtrack film terbaik sepanjang masa. The Godfather judul film itu. Bercerita tentang kehidupan sekelompok mafia asal Italia.


Menurut para pengamat, sampai sekarang belum ada yang bisa menandingi kualitas film yang dibintangi oleh actor kawakan Marlon Brando dan Al Pacino ini. Mungkin karena alasan inilah ia disebut sebagai film terbaik sepanjang masa. Dirilis tahun 1972, film yang digarap sutradara jempolanFrancis Ford Capolla ini segera menyabet Academy Award. Sebuah penghargaan yang paling prestisius dalam dunia perfilman. Sukses dengan The Godfather, Francis juga membuat The Godfather II dan III yang juga menjadi Box Office. 

Walaupun bercerita tentang Mafia, sebenarnya kata Godfather secara harfiah berarti wali baptis. Menurut beberapa artikel yang Saya baca, dalam dunia Kristen, peran wali baptis adalah menjadi teladan sekaligus membantu mereka yang dibaptis dalam kehidupan keimanan mereka. Tetapi dalam film ini, godfather digambarkan sebagai tokoh yang dihormati dan disegani, sekaligus dimintai nasihat dalam dunia mafia yang hitam, kotor, sadis dan menjijikkan.


Kebetulan saya sudah menonton semuanya. Trilogi The godfather, yang diangkat dari novel legendaries karya Mario Puzo. Menurutku, filmnya memang sangat bagus dan pantas disebut sebagai film terbaik sepanjang masa. Tapi Saya sarankan, bagi yang ingin menontonnya, jangan ajak anak-anak. Ini film cukup sadis dan brutal. Bahaya. Hehehe.

Michael Corleone, adalah tokoh utama dalam The Godfather. Diperankan dengan sangat baik oleh Al Pacino. Michael sebenarnya tidak tertarik dengan bisnis “hitam” yang dibangun oleh keluarganya. Sampai kejadian penembakan yang hamper merenggut nyawa ayahnya, sejak itupulalah hidupnya berubah. Sepeninggal Ayah dan kakak tertuanya, ia mewarisi kerajaan bisnis keluarga dan sukses mengembangkannya menjadi lebih besar lagi. Ia menjadi sosok yang paling disegani dalam dunia mafia.

Ibarat kata pepatah, ‘jangan membangun gubuk ditepi pantai, jika tak ingin dilamur ombak’, maka hal inipulalah yang dialami Michael. Dia harus menanggung keputusannya untuk terjun dalam bisnis yang penuh dengan persaingan, intrik, dendam, pembunuhan, penghianatan dan lain sebagainya. Berbagai geng mafia silih berganti berupaya membunuh dan merebut kerajaan bisnisnya. Berulangkali Ia mengalami percobaan pembunuhan. Beruntung Tuhan masih melindungi nyawanya.

Untuk memepertahankan apa yang dimilikinya, Iapun melakukan “pembasmian” terhadap pihak-pihak yang diketahui berkomplot untuk menghabisi dirinya. Termasuk kepada ipar dan bahkan kepada kakak kandungnya sendiri.

Michael tak bekerja sendiri dalam melakukannya. Anak buahnya yang begitu terlatih dan profesional, serta kemampuannya mempengaruhi penegak hokum menjadikan kerja-kerja kotornya sangat efektif dan berdampak besar. Entah sudah berapa nyawa melayang karena “pembasmian” ini. Ia menjelma menjadi manusia tanpa belas kasihan.

Namun, dimasa tuanya, hal yang kontras justru terjadi. Michael menyesali semua yang pernah Ia perbuat. Ia bahkan pernah menangis sejadi-jadinya dihadapan seorang pendeta. Teringat rentetan pembunuhan yang pernah dilakukannya. Utamanya saat mengenang seorang kakak kandungnya yang dibunuh atas perintahnya. 

Diakhir cerita, Ia duduk sambil memakai kaca mata hitam di halaman depan rumahnya. Hanya sendiri. Memandang lurus kedepan. Entah apa yang Ia pandangi saat itu. Kesedihan masih tampak diraut wajahnya. Beberapa waktu sebelumnya, putrid tercintanya tewas. Anak perempuan satu-satunya dan merupakan “harta” yang paling dicintainya. Lebih tragis lagi karena Sang putrid tercinta tewas dipangkuannya. Usai diberondong senjata oleh geng mafia yang dendam dan ingin menghabisi Michael.

Siang itu, Ia duduk dalam sepi. Tiba-tiba Ia terjatuh dari kursinya. Ia meninggal. Berpulang dalam kesendirian, membawa penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Harga mahal yang harus Ia bayar dari keputusan yang perdah Ia buat. Akhir tragis seorang mafia.
 
Ada peribahasa yang indah, ‘Siapa yang Menabur, Dia yang Menuai’. Ini peribahasa yang tetap berlaku sepanjang masa. Siapa yang berbuat, maka Ia akan menanggung akibat dari perbuatannya. Bahkan mungkin sampai akhir hayat. Kisah The Godfather adalah kisah dalam novel dan film. Tapi kita paham bersama bahwa kisah ini adalah gambaran dari dunia nyata. Kita akan menemukannya dalam keseharian kita, tapi kadang dengan narasi yang sedikit berbeda. 

Kata orang bijak, ketika menjalani kehidupan ini, kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan. Pilihan menjadi orang baik ataukah menjadi orang jahat. Jika kita memutuskan menjadi orang baik, maka kita akan menuai hasil kebaikan kita, yang pastinya sungguh indah dan membahagiakan. Indah dan bahagia sepanjang masa.(Tim.LitbangTM/Dari berbagai sumber)