Senin, 17 Juni 2019

Poldasu Amankan 7 Pelaku Pembunuhan Berencana Satu Keluarga di Dairi


Tapanuli Media

Kepolisian Daerah Sumatera Utara bersama Polres Dairi berhasil mengamankan 7 (tujuh) orang yang diduga pelaku percobaan pembunuhan berencana terhadap satu keluarga di Kelurahan Tiga Lingga, Kabupaten Dairi. Para pelaku berhasil diringkus pada 15 Juni 2019 di lokasi berbeda. Bambang Harianto diamankan di rumahnya di Dusun Pakel Desa Selamat Kecamatan Tenggulu Kabupaten Aceh Tamiang. Sementara tersangka lainnya diamankan di Medan, Langkat, dan Desa Bukit Lau Kersik.
Tujuh pelaku antara lain, Serikat Tarigan alias ST, Wagino alias OKA, Bambang Harianto alias BH, Joni Ginting alias Yudi, Boyma Sitinjak alias BS, Bonansa Siagian alias BS, dan Massa Tarigan alias MT. Dari tujuh pelaku, tim Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumut berhasil membekuk otak pelaku pembunuhan berencana yakni Serikat Tarigan. 
Percobaan pembunuhan dilakukan terhadap keluarga Bangkit Sembiring yang merupakan pensiunan anggota Polisi dari Jajaran Polres Dairi, dilakukan pada Kamis (31/5), sekira pukul 03.00 wib. Atas kejadian tersebut, 3 dari 8 anggota keluarga Bangkit Sembiring mengalami luka penganiayaan cukup serius. Mereka adalah Bangkit Sembiring (Suami) Ristani Samosir (istri Bangkit), serta tiga anaknya Abraham (10) Semangat Sembiring (21), Maria Sembiring (18). Saat ini para korban masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Adam Malik Medan.
Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto mengatakan, motif percobaan pembunuhan berencana diduga sakit hati pelaku ST kepada keluaraga Sembiring. Diduga permasalahan keduanya terkait sengketa tanah seluas 1,5 hektar.
"Motifnya adalah dendam yang dilatarbelakangi karena sengketa masalaj pertanahan. Korban menguasai lahan yang 1,5 hektar dan terjadi silang sengketa dengan ipar pelaku," jelas Agus saat press release di halaman Mapolda Sumut, Senin (17/6).
Dikatakan Agus, proses percobaan pembunuhan berencana sudah dimulai sejak Maret 2019. Diduga, otak pelaku ST dkk mendapat limpahan permasalahan dari iparnya dan kemudian berlanjut saling lapor ke polres Dairi dan berbuntut pada kasus penganiayaan dengan membayar pelaku senilai Rp 50 juta. Uang tersebut juga digunakan untuk membeli peralatan atau senjata tajam, dan menyewa mobil. "Ini motif dendam. Dari tiga pelaku diberi tindakan tegas karena melawan petugas. Bahkan anak korban berusia 10 tahun dipukul dengan martil," ucap Kapolda. 
Sementara Dirreskrimum Polda Sumut Kombes pol Andi Rian mengatakan, dari hasil keterangan pelaku bahwa otak pelaku ST memerintahkan pelaku lainnya untuk menghabisi satu keluarga Sembiring. Namun, pada saat dilakukan eksekusi pembunuhan ternyata ada perlawanan dari pihak korban sehingga pelaku melarikan diri dari TKP. "Mereka memang sudah menggambar dan dari analisis kita dan kita interogasi proses mereka merencanakan dari bulan Maret 2019 dan dilakukan Mei," ucap Andi Rian.
Ditambahkan Andi Rian, pokok permasalahan tersebut berasal antara korban dengan ipar tersangka ST terlihat masalah penguasaan tanah yang berujung pada saling menggugat di pengadilan. Namun, diduga kesal, ipar memberikan kuasa kepada ST pada 2018, untuk menyelesaikan permasalahan tersebut yang berakhir pada pengerusakan dan penganiayaan.

Adapun sejumlah barang bukti yang diamankan dari para tersangka antara lain, 3 bilah parang, 1 buah linggis, 1 buah palu, 5 pasang sarung tangan, 2 unit sepeda motor, dan 1 unit mobil. Adapun pasal yang dilanggar para tersangka yakni pasal 340 subsider 338 Jo 53 lebih subsider 170 ayat (2) ke 2 subs 354 ayat (1) KUHPidana dan atau pasal 76 huruf C Jo pasal 80 ayat (2) dari Undang - Undang RI Nomor 17 tahun 2016 pengganti Undang - Undang nomor 1 tahun 2016, tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

"Singkat Tarigan sebelumnya juga sudah pernah ditahan di Polres dan perkaranya sedang proses di pengadilan kejaksaan Dairi. Kemudian juga si iparnya ini si Bahagia Sinuraya kota tangkap lebih dulu di Labuhan Batu untuk kasus pengerusakan," jelas Andi Rian.
Para pelaku ini juga memiliki hubungan keluarga. ST merupakan juragan durian. Sementara Masa Tarigan yang merupakan adik ST ikut mendukung. Kemudian 5 orang lainnya hanya sebagai eksekutor. "Wagino bertugas mencari orang dan kemudian bekawan dengan Bambang Hariyanto dari Tamiang. Kemudian Joni Ginting asal Sawit Seberang. Proses penangkapannya juga dari 7 tersangka dua ditangkap di luar kota Medan. Termasuk mobil dan barang bukti kita amankan. Tiap - tiap pelaku juga rata - rata mendapat imbalan 6-7 juta. Saat proses lidik pelaku memang sempat mengancam korban Sembiring jika telah pensiun dari kepolisian, ungkap  Andi Rian (#Roy Sembiring)
Pasang Iklan Anda di Sini..

Pemkab.Taput Usulkan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 14.723,80 Ha


Tapanuli Media


Untuk menyamakan persepsi dn penyeragaman tindakan terkait hal-hal yang perlu dipersiapkan guna mendukung program pemerintah pusat dalam hal penyediaan sumber Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) sertapenerapan Peraturan Presiden Nomor 88 Tahun 2017, pemerintah kabupaten tapanuli bersama dengan Kepala KPH Wilayah IV,XI,XII,XIII , Kepala BPN dan dari Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara  mengadakan rapat koordinasi antara pimpinan OPD,Camat,Kepala Desa/Lurah pada Senin (17/6) bertempat di Aula Kantor Bupati Kab.Taput.

Kegiatan yang di buka langsung oleh Wakil Bupati Kab.Taput Sarlandy Hutabarat didampingi oleh Sekdakab.Taput E.Tampubolon, Ass. Bid.Administrasi dan Umum Sekdakab.Taput  Osmar Silalahi, Kadis Lindup,Benhur  Simamora, serta dari KPH Dishutpropsu dan Kepala BPN " Wakil Bupati berharap kiranya melalui pertemuan ini dapat menghasilkan kesimpulan dan kesamaan persepsi serta pemahaman para Kepala Desa tentang TORA tersebut.

Sebagaimana diketahui ,pemerintah Kabupten Tapanuli Utara melalui surat Bupati Taput Nomor.5902/1049/20.4/III/2019 tanggal 21 Maret 2019 telah mengajukan  usulan Permohonan Penyediaan Sumber Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 14.723,80 Ha yang tersebar di 15 Kecamatan, dan untuk menyikapi hal tersebut sangat diperlukan adanya keseragaman kesepakatan serta hal-hal lainnya yang perlu dipersiapkan sehingga pada nantinya pengajuan penyelesaian penguasaan tanah dalam hutan di OPD masing-masing tidak bertentangan dengan aturan peraturan yang berlaku.

Dalam sesi tanya jawap antara sejumlah kepala desa dan para nara sumber, sejumlah kepala Desa menyatakan kebingungan mengenani tata batas hutan desa dan tidak tahu tentang tata batas hutan desa tersebut, menurut mereka hal tersebut dikarenakan tidak adanya informasi ataupun keterangan yang resmi dari instansi terkait atas tata batas hutan tersebut serta dimana saja letak tata batas tersebut terutama sejumlah desa yang berdekatan dengan kabupaten tetangga.

Kegiatan pertemuan tersebut turut serta dihadiri oleh para Asisisten, Staf Ahli Sekdakab.Taput,Pimpinan OPD, Camat serta para Kepala Desa dan Luruh se Kab.Tapanuli Utara. (P.B)



Pasang Iklan Anda di Sini..