Pembuangan Bangkai Babi Menjadi Problema Baru di Sumut


Tapanuli Media Center
Sebelumnya, warga membuang bangkai hewan ternak babi milik mereka ke Danau Siombak Marelan, Medan, Sumatera Utara (Sumut), sejak Senin, 11 November 2019 lalu. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, sedikitnya ada 4.682 babi mati yang diduga akibat wabah virus Hog Kolera dan African Swine Fever atau demam babi Afrika di 11 kabupaten/kota di Sumatera Utara.

Sudah lepas tiga hari setelah peristiwa pembuangan bangkai babi ke Danau Siombak, kali ini pembuangan bangkai hewan babi yang mati kembali terjadi namun dalam keadaan sudah dibungkus karung goni atau karung beras, kemudian dibuang begitu saja ke pinggir jalan yang biasa dilalui pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor maupun mobil.

Camat Medan Kota, T. Yudi Chairuniza membenarkan pihaknya berhasil menemukan 3 (tiga) bangkai babi di Jalan Gedung Arca, Kota Medan, dimana lokasinya masuk area Kelurahan Pasar Merah Timur, Medan Area.

Akan tetapi, semua bangkai babi tersebut dipastikan Yudi sudah dikuburkan. Dirinya bahkan sudah berkoordinasi dengan Lurah serta Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution.

"Sudah ditangani," tegas Yudi, Kamis (14/11/2019).

Sementara itu, fenomena bangkai babi di Medan ini menjadi perhatian serius Anggota DPRD Kota Medan. Anggota dewan meminta aparat penegak hukum segera menangkap pelaku pembuangan bangkai babi, terutama yang baru saja terjadi di Jalan Gedung Arca, Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (14/11/2019).

Sedangkan untuk yang membuang bangkai ke Danau Siombak dan Sungai Bederah, Wakil Ketua DPRD Kota Medan Ihwan Ritonga juga meminta polisi segera menangkap pelakunya karena harus diberi efek jera.

"Sungai itu bagian dari kehidupan manusia, tapi dicemarkan. Kami minta aparat penegak hukum supaya usut tuntas. Ribuan itu (bangkai) babi yang dibuang. Siapa sebenarnya pelakunya, harus dihukum," kata politisi Partai Gerindra tersebut.

Dirinya khawatir, jika pelaku tidak segera dihukum, pembuangan bangkai babi akan terus terjadi. Apalagi, saat ini sebagian wilayah di Sumut sedang dilanda wabah kolera babi yang menyebabkan ribuan ternak babi mati.

Ratusan bangkai babi sebelumnya berhasil diangkut dari Danau Siombak, Medan, kemudian dikuburkan dalam satu lubang menggunakan alat berat.

Seperti diketahui, kasus bangkai babi terkuak saat ditemukannya ratusan bangkai hewan gemuk tersebut mengambang di Sungai Bederah, Medan Marelan, sejak Selasa, 5 November 2019. Setelah itu, bangkai babi juga ditemukan mengambang di Danau Siombak. Pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Medan juga terus melakukan pengangkatan bangkai babi untuk dikuburkan. Proses penguburan berlangsung di pinggir Danau Siombak di Kelurahan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan.

Demikian juga di beberapa tempat lainnya seperti di Taput dan Dairi ,beberapa hari yg lalu warga juga di hebohkan dengan adanya bangkai-bangkai ternak Babi di Sungai Sigeaon, juga hal nya di Dairi polemik Bangkai babi tersebut menjadi problem. (#Indah Kumalasari-Medan)

IPK 3,50 Bagi Pelamar CPNS, Pemkab Bener Meriah Wujudkan SDM Berkualitas


Tapanuli Media 

Untuk mewujudkan Sumber Daya Manusia  berkualitas sebagai aparatur pemerintah daerah Kabupaten Bener Meriah metepakan  Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,50 bagi pelamar dari luar Kabupaten Bener Meriah. 
Saat ini penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kabupaten Bener Meriah mulai berjalan seiring dimulainya pendaftaran secara nasional pada 11 November 2019 lalu.
Untuk Kabupaten Bener Meriah, yang merupakan Kabupaten pemekaran dari Aceh Tengah, baru tahun ini mendapatkan sebanyak 162 kuota, setelah pada tahun sebelumnya, yaitu tahun 2018 tidak membuka seleksi CPNS.
Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kabupaten Bener Meriah Muhammad Jafar menyampaikan semua Warga Negara Indonesia (WNI) berhak mengikuti seleksi CPNS di Bener Meriah.
Namun demikian, ada aturan yang dijalankan agar output yang didapatkan nantinya berkualitas. Salah satunya adalah penetapan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,50 bagi pelamar dari luar Kabupaten Bener Meriah.
“Persyaratan khususu secara domisili enggak bisa. Putera-puteri Bener Meriah aja enggak bisa. Lalu kita batasi, kalau untuk putera-puteri Bener Meriah itu IPK 2,75. Kalau diluar Bener Meriah dan luar Aceh itu 3,50,” ujar Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kabupaten Bener Meriah Muhammad Jafar, Kamis (14/11/2019)
Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kabupaten Bener Meriah Muhammad Jafar mengaku persyaratan khusus itu tidak menjadi permasalahan oleh BKN maupun Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. (#sagalaharapan)