Kamis, 21 Maret 2019

Janson Sitindaon,ANAK KAMPUNG MENAKLUKKAN JAKARTA

Tapanuli Media Center"Anak Kampung Menaklukkan Jakarta"Sebuah  Judul Tulisan yang disampaikan oleh Janson Sitindaon  untukFawzy Gomgom Sinaga, anak Sumbul yang dikenalnya  melalui Facebook, dan 2 hari ini nge-chat saya via messenger FB dan bertanya berbagai hal mengenai sekolah.

Inilah DM Fawzy kesaya: "Horas Bang Jansen. Sattabi duluan ya bang. Aku mau nanya bang, abg dulu waktu SMA jurusannya apa? Soalnya aku sangat suka tentang hukum sejak kecil tapi aku duduk dibangku sma jurusan IPA. Bisanya aku nantinya melanjutkan harapanku di bidang jurusan hukum bang?? Terima kasih duluan ya bang".
Fawzy ini sekarang kelas 11 di SMAN 1 Sumbul. Citanya-citanya ingin kuliah hukum dan menjadi Lawyer seperti saya. Saya berjanji ketika nanti ke Sidikalang akan menemui dia. Dan semoga saya bisa membimbing dan memberi pandangan untuknya agar dia bisa meraih cita-citanya. Namun sebelum berjumpa, ini abang dedikasikan sebuah tulisan untukmu Zy. (NB: jika ada anak² SMA lain di Dairi yang mungkin saja butuh pandangan seperti Fawzy agar bisa sekolah ke "Jawa" kabari saja. Jika ada waktu saya siap memberikan pandangan. Minimal pandangan mengenai kampus saya dulu Univ. Airlangga di Surabaya dan Univ. Indonesia).
(Berikut ini serial tulisan dari saya berjudul "Menaklukkan Jakarta" untuk Fawzy, dan tentu saja untuk seluruh anak² Dairi dan Sumatera Utara dimanapun berada. Tentu ini cerita "penaklukan" versi abang ya adek² semua. Semoga tulisan ini bisa jadi inspirasi. Diluar untuk teman² di Sumatera Utara, tulisan ini juga saya dedikasikan untuk seluruh "anak² daerah" dan para perantau baru diluar sana yang mau datang ke kota Jakarta ini. Semoga bisa jadi panduan. Jikapun tidak, minimal jadi bahan bacaan).
Inilah lika-liku abang menaklukkan Jakarta. Sebagai catatan: tulisan ini setahun lalu juga sudah pernah abang post. Namun menurut abang tulisan ini masih sangat relevan untuk Fawzy dan adek² semua.
Adakah anak daerah yang tidak ingin merantau dan "menguji nasibnya" di Jakarta? Jawabnya pasti ada saja. Mungkin karena sudah nyaman di daerahnya. Atau, karena daerahnya sudah memberi kehidupan cukup baginya. Namun sebaliknya, saya juga yakin, pasti banyak anak daerah di luar sana yang ingin mengadu nasib dan peruntungannya di Ibukota ini. Seperti saya salah satunya. Di awal 2005 lalu. 13 tahun lalu!
Kejam kah Jakarta? Jawaban awal saya: kejam! Bagi yang tidak punya kompetensi ya. Karena kota ini sangat kompetitif. Penuh kompetisi. Jadi syarat awal jika ingin masuk kota ini: miliki dulu kompetensi! Itu saran saya. Entah dibidang apapunlah. (Jelek-jeleknya kalau istilah saya dulu ke beberapa teman: "minimal kalau mau masuk Jakarta ini, selain punya modal Ijazah harus juga punya modal bisa nyetir mobil-lah. Mana tau di awal merantau masih gagal terus dapat pekerjaan, sore mimimal bisa nyambi jadi supir angkot M-01 jurusan Senen - Kampung Melayu lah. Hehe.. Lumayan untuk nyambung hidup. Ini kebetulan angkot yang dulu sering saya naiki kalau mau lihat-lihat buku baru di Gramedia Matraman atau belanja buku bekas di Senen).
Kembali ke laptop. Jika sudah punya kompetensi, baru nanti bersama kompetensi yang ada dalam diri tersebut pelan-pelan kita berselancar kesana kemari mencari peluang. Itu sajapun belum cukup jadi jaminan tidak terusir pulang ya!
Apalagi ditahap awal, tingkat kegagalan di Jakarta ini memang tinggi. Itu yang kadang buat stress.. Bawaannya mau balik pulang terusss ke kota asal yang pasti lebih nyaman, lingkungannya sudah dikenal dan segala lika-likunya sudah dikuasai. Jadi ditahap awal di Jakarta ini, walaupun kita sering jumpa dengan kegagalan, "penyakit rindu pulang" ini harus dilawan! Jika perlu lupakan kalau kita punya kampung.
Bagi yang tidak punya satupun sanak saudara di Jakarta ini (seperti saya dulu contohnya) resiko terusir pulang ini malah lebih tinggi lagi. Apalagi kalau sudah 3 bulan misalnya melamar kesana kemari tidak juga ada yang manggil dan menerima. Jatuhnya bisa depresi. Selain kena jebakan biaya hidup tinggi, psikologis juga kadang terpukul: "kok bodoh sekali saya ini ya.. masak dari puluhan lamaran tidak ada satupun yang manggil.. kejam betul Jakarta ini.. tidak cocok saya tinggal di kota ini", dan berbagai umpatan lainnya didalam diri.
Untuk menekan pengeluaran di tahap awal merantau di Jakarta ini, saran saya: carilah kost-kostan ditengah kota (agar aksesnya gampang kesana kemari) namun yang harganya murah.
Pertanyaannya kemudian: apakah mungkin dapat kost ditengah kota Jakarta tapi murah? Disinilah seninya hidup ber-Jakarta ini. Jakarta ini kota unik. Bagian tengah kotanya banyak dilewati kali dan sungai. Di gang-gang daerah pinggiran kali inilah "kehidupan murah" itu berada. Inilah daerah yang telah banyak menyelamatkan para perantau di kehidupan awalnya di Jakarta. Jadi kata kuncinya, jika anda perantau dan modal pas-pasan, langkah awal segeralah cari kost-kostan didaerah pinggir kali Jakarta. Biarlah dari sini kehidupan anda dimulai menaklukan "kota beton" ini.
(Percaya atau tidak, dari testimoni beberapa senior yang saya dengar, yang hidupnya dimulai dari pinggiran kali dan "gang-gang Jakarta" ini kecenderungan suksesnya malah lebih tinggi. Dibanding yang mulai dari kost-kostan mewah ya. Karena dapat kerjaan aja dikit, karena mungkin mulainya dari kehidupan paling bawah di Jakarta ya, dia merasa Jakarta sudah baik kedia. Padahal menggunakan ukuran umum, pekerjaan yang dia terima di awal itu sebenarnya biasa-biasa saja. Dari situlah nanti pelan-pelan akan merangkak naik.. naik.. dan terus naik. Penting prinsipnya "nyaman dulu ber-Jakarta". Dan tumbuh perasaan didalam diri bahwa Jakarta telah baik ke saya dan sudah mulai pro ke saya. Kalau perasaan sejenis ini sudah mulai tumbuh dalam diri, biasanya jalan menaklukkan Jakarta ini tinggal tunggu waktu. 😉).
Saya dulu ketika awal masuk Jakarta di tahun 2005, kostnya "di bagian dalam dan gang-gang" daerah Salemba Tengah dan Salemba Bluntas. Dekat kali. Sesuai rumus awal syaratnya kan harus tengah kota. Dan wilayah ini tidak diragukan lagi lokasinya pas dipusat kota Jakarta. Cukup modal jalan kaki saja kita sudah bisa sampai kebanyak tempat penting. Bahkan dari tempat ini, kalau kita lari, ke Istana Presiden saja paling cuma 20 menit. Ke RSCM, RS Saint Carolus, Kampus UI Salemba, PB NU, PGI, UKI, YAI, dll semua dekat. 1 bulan uang kost ketika itu Rp.150 ribu. Tapi itu tadi, kamarnya ya cuma ukuran 2 X 1,5 Meter. Tanpa kipas angin. Jadi beli sendirilah kipas yang kecil-kecil mutar itu. Hehee.. Penting tujuan awal untuk menekan pengeluaran tercapai dulu.
Kalau soal tidur, jika masih pengangguran dimanapun tidur pasti bisalah. Jika ada pengangguran yang membaca tulisa ini masih banyak gaya dan sok-sok milih selera lagi, saya pastikan masa depannya suram itu. Hehe.. Namanya merantau.. ya harus siap susah-susah dululah ditahap awal, sebelum yang "enak-enak" itu tiba. Itupun kalau enaknya tiba. Malah banyak yang enak-enak itu belum tiba sudah duluan "KO" dan terusir pulang dari Jakarta.
Disekitaran daerah Salemba ini saya tinggal 5 tahun dan 3 kali pindah kost. Sebelum kemudian saya pindah ke kost yang lebih layak (menurut saya ketika itu ya.. karena lokasinya sudah berada dipinggir jalan) di daerah Petojo, Tanah Abang 2. Nanti deskripsi lebih lengkap terkait hal ini akan saya ceritakan di tulisan berikutnya.
(Itu dulu tulisan serial pertama. Sesudah "tips" mencari kost, berikutnya saya akan masuk ke lika-liku siasat cari kerja dan proses naik turun menaklukkan Jakarta. BERSAMBUNG..)
Horasss
Njuah-njuah..
Mejuah-juah
Lias Ate..
Salam sehat untuk kita semua
JANSEN SITINDAON

Pasang Iklan Anda di Sini..

Rabu, 20 Maret 2019

Tidak dilibatkan,DPRD Taput Pertanyakan Koordinasi Legislasi dan Pengawasan Dana Desa oleh BPMD




Tapanuli Media Center
Untuk pengawasan dan fungsi legilasi pelaksanaan dana desa yang dikucurkan oleh pemerintah pusat kesetiap desa melalui instansi BPM D kabupaten taput,hampir kurang lebih 1 miliar setiap desa , pihak DPRD kabupaten taput  sebutkan tidak ada dilibatkan dalam hal pengawasan.

Anggota DPRD Kab.Taput, Maradona Simanjuntak  dari partai Nasdem daerah pemilhan 4 yang meliputi sipahutar,pangaribuan dan garoga melalui sambungan telepon selularnya pada selasa 19/03/2019 meyebutkan  tidak pernah ikut dilibatkan dalam hal legislasi bidang pengawasan Dana Desa.

Sama halnya juga dengan komentar dari wakil rakyat dari partai PKPI dapil 4 jasminto sumanjuntak saat ditemui dikantor DPRD taput,juga mengatakan kalau dia juga tidak pernah dilibatkan dalam hal tugas fungsi sebagai pengawasan n didalam pelaksanaan proyek dana desa tersebut.

Sejak digulirkannya dana desa ditapanuli utara ini,kami selaku anggota dewan disini memang sepertinya tidak pernah ikut dilibatkan dalam hal legislasi bidang pengawasan dan bahkan kami seharusnya mendapat pemaparan dari instansi terkait kalau ditaput telah ada pelaksanaan proyek dana desa disetiap desa,justru kami dapat informasi dari teman pers dan masyarakat,ungkapnya.

Jadi kami para anggota dewan harapkan nantinya saat agenda rapat LKPJ bupati, kami akan mempertanyakan hal ini di forum agenda rapat kepada instansi terkait dan kepada pemerintah kabupaten tapanuli utara akan memang kami tidak pantas atau tidak ada dilibatkan dalam hal pengawasan anggaran yang sumber dananya dari pemerintah pusat tersebut,tegas mereka.

Menyikapi akan hal komentar dari dua anggota dewan taput tersebut,sekretaris dinas BPMD kabupaten taput,Doni Simamora yang juga merangkap sebagai pelaksana tugas kepala dinas,saat dihubungi menyebutkan  kalau instansi mereka selalu welcome menerima siapapun itu, baik itu masyarakat, Pers,penegak hukum,LSM dan juga para anggota dewan untuk bersama sama melakukan pengawasan jalannya pengerjaan proyek yang bersumber dana desa,terangnya.(Pembela.B/HS)

Pasang Iklan Anda di Sini..
Untuk Kerjasama Iklan dan Kampanye dan Sosialisai Melaliu Media Massa Pada Masa Kampanye..Hubungi Kami.CV.TAPANULI MEDIA.Tlp.081265186770. Email:tapanulimedia@yahoo.co.id
DAIRI
TAPUT
HUMBAHAS SAMOSIR